About my Blog

Share Information; Blogs, Travel, Technology, Tutorial, Business, College and etc.

Jumat, 04 Juni 2010

Cinta Kasih dalam Agama Islam

Seringkali kita mendengar ungkapan :” ALLAHU AKBAR “ dengan pengertian Allah Maha Agung. Allah merupakan perwujudan sebagai Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pengasih dan semuanya disanjungkan sebagai Maha Besar. Kalau udah begini, kita sebagai manusia merasa betapa kecilnya diri kita, betapa kita harus mendalami apa makna dari semua itu.

Dalam kisah agama Islam ada suatu kisah yang menyatakan betapa Allah Maha Pengasih. Dikisahkan ada seorang pelacur yang meninggal dunia dan kemudian masuk surga. Bagaimana mungkin seorang pelacur, wanita hina dina bisa masuk surga ? Sedangkan didunia saja ia sudah dikutuk, dibenci banyak wanita, dianggap perusak dan wanita tak bermoral. Kemudian dikisahkan bahwa wanita pelacur yang dianggap bejat oleh manusia normal tersebut memiliki CINTA KASIH semasa hidupnya. Kisahnya ialah pelacur tersebut pada suatu hari sedang menimba air, datanglah seekor anjing yang juga dianggap mahluk binatang. Anjing yang kehausan dengan lidah menjulur dan napas terengah-engah tanda kehausan dan anjing tersebut mendatangi sumur dimana wanita tersebut sedang menimba air, karena tidak tega melihat seekor anjing kehausan si wanita mengambil tempat air dan memberinya minum. Anjing tersebut dengan semangat melepaskan dahaganya. Nabi mengatakan bahwa Allah menyaksikan betapa seorang pelacur masih memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama ciptaan Allah. Rasa kasih sayang tersebut tetap berharga dan karena kasih sayang tersebutlah pelacur tersebut diterima disurga. Jadi dalam agama Islam dikenal kasih sayang terhadap mahluk ciptaannya. Kalau terhadap binatang saja, rasa kasih sayang dihargai tentu saja rasa kasih sayang terhadap sesamanya harus diberdayakan. Ungkapan Allah Maha Pengasih dan Penyayang memang harus didengungkan dan didalami serta direnungkan. Manusia yang tanpa kasih sayang terhadap sesamanya dan hanya fanatisme buta sebenarnya sudah melanggar PERINTAH ALLAH. Bayangkan terhadap mahluk binatang Allah dan Nabi menghargai kasih sayangnya, seperti yang diceriterakan dalam kisah Nabi.

Kasih sayang juga menyangkut saling menghormati, saling berbagi rasa dan saling menghargai. Sayang sekali kisah tadi dikotori dengan ulah segelintir manusia yang tidak mengenal kasih sayang dan cuma mengobral kebencian. Agama Islam tidak mengajarkan kebencian, agama Islam seperti juga agama Kristen, agama Budha, bahkan moral batiniah tidaklah mengajarkan cara-cara primitip penuh kebencian. Sesungguhnyalah apa yang dilakukan MUI dengan FATWA agar umat Islam tidak mengucapkan Selamat Hari Natal kepada orang-orang Kristen menunjukkan betapa dangkalnya pengetahuan agama dari oknum kelompok Majelis Ulama Indonesia. Ataukah disini ada upaya menggunakan AGAMA untuk kepentingan PRIBADI dan GOLONGAN ? Seperti juga kebencian-kebencian yang disebarkan oleh sekelompok orang yang menamakan diri mereka dengan FUNDAMENTALIS dan melakukan JIHAD dengan merusak tatanan, dengan menyebar kebencian dan menafsirkan agama serta Al Qur’an dengan bertentangan terhadap kehendak ALLAH. Allah menghendaki kedamaian, Allah menghendaki penyebaran cinta kasih karena ALLAH MAHA PENGASIH dan PENYAYANG. Apalagi kalau ada yang mengatakan membela ALLAH, sedangkan dalam agama dan Al Qur’an dikatakan bahwa ALLAH MAHA AGUNG, ALLAH MAHA KUASA dan dengan menyimak kalimat tersebut jelas bahwa Allah tak perlu dibela oleh mahluknya yang harus rendah hati dan harus mawas diri. Kebohongan besar kalau ada yang mengatakan bahwa ia membela ALLAH, karena Allah Maha Kuasa berarti tak ada mahluk didunia yang memiliki kemampuan membela ALLAH. Membela Allah berarti melakukan kewajiban menjalankan agama dan tidak membenci mahluk ciptaan Allah, serahkan kepada Allah saja dan kita sebagai mahluknya tak akan tahu persis apa kehendak Allah. Jadi mengeluarkan FATWA yang seenaknya jelas melanggar kemauan Allah yang penuh kasih sayang. Jelas Fatwa MUI cuma penggelontoran politik serta ambisi pribadi dan golongan dalam menggunakan atau memperalat agama untuk kepentingan sesaat.

Beberapa Tispa Mengatasi Kesepian

Jika Anda merasa kesepian, Anda tidak sendirian. Keadaan ini dialami hampir semua orang di dunia. Dari hasil penelitian, para ahli kini sudah menemukan penyebab rasa sepi ini sehingga bisa memberikan beberapa cara sederhana dan logis untuk mengatasinya.

“Orang-orang yang merasa kesepian dan mempunyai masalah dalam membentuk hubungan akrab dengan orang lain mempunyai rasa percaya diri yang rendah,” kata psikiater David D. Burns, penulis buku Intimate Connections yang mengembangkan program mengatasi kesepian di Presbyterian Medical Center, Philadelphia. “Mereka takut ditolak dan dicela sehingga bersikap terlalu kritis terhadap diri sendiri. Ini disebabkan mereka mempunyai harapan yang tak masuk akal untuk dirinya sendiri maupun orang lain.”


Rasa percaya diri yang rendah ini membuat seseorang malas keluar, bertemu dengan orang-orang dan menjalin persahabatan. Tapi, sekali Anda belajar mencintai diri Anda sendiri, orang lain dengan sendirinya akan mencintai Anda juga. Dan rasa kesepian akan hilang. Berikut ini, tip yang ditawarkan Dr. Burns.

1. Ingatkan diri Anda tentang bakat dan ciri pembawaan Anda yang membuat Anda bangga pada diri sendiri. Bayangkan diri Anda sebagai seseorang yang menarik dan diperlukan. Orang-orang lain umumnya tertarik pada seseorang yang mempunyai pandangan positif.
2. Laksanakan kegiatan yang selama ini Anda dambakan. Apakah belajar dansa, atau bermain musik, atau kursus bahasa asing, atau melakukan kegiatan sosial. Pandai dalam suatu bidang akan membangkitkan rasa percaya diri.
3. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Anda pasti akan selalu menemukan orang lain yang lebih langsing, lebih muda, lebih cerdas, atau lebih seksi. Selain itu, untuk menjalin persahabatan lestari dan saling mengasihi, Anda tak perlu harus cantik atau tampan atau kaya.
4. Bergabung dengan grup yang punya minat yang sama. Pelajari program yang ditawarkan badan pendidikan untuk orang dewasa. Bisa juga bergabung dengan organisasi yang bersifat keagamaan. Atau bergabung dengan grup teater dan sebagainya, yang terdapat di dekat kediaman Anda.
5. Sibukkan diri dengan pekerjaan sukarela. Dengan kegiatan ini, Anda akan lebih memikirkan apa yang bisa Anda berikan kepada orang lain, daripada memikirkan apa yang bisa Anda dapatkan dari orang lain. Hal ini akan membuat Anda merasa senang pada diri sendiri.
6. Lakukan sesuatu yang membuat Anda merasa istimewa. Manjakan diri Anda dengan makanan lezat, tataan rumah / kamar yang menarik, atau kegiatan menyenangkan yang lainnya. Temukan hal-hal yang bisa menyenangkan Anda.
7. Rias diri Anda agar berpenampilan menarik. Kenakan busana yang sedang ngetren yang selama ini selalu Anda hindari. Perubahan citra Anda bisa mempengaruhi perasaan orang-orang terhadap diri Anda.
8. Jangan terlalu kritis terhadap orang lain. Jika Anda mengharap bertemu dengan orang yang sempurna, Anda akan menunggu selamanya.
9. Selalu tersenyum. Katakan, ‘halo’ pada orang tak dikenal di jalan. Jika hal ini membuat Anda salah tingkah, coba mulai lakukan pada sesama jenis. Atau pada orang yang lebih tua, atau anak-anak. Jika Anda sudah percaya diri, Anda akan menemukan, dapat mendekati lawan jenis dengan lebih mudah.
10. Memberi pujian. Orang-orang haus pujian. Dan hampir semua pujian bisa membangkitkan jawaban yang hangat.
11. Bicarakan tentang diri Anda, tujuan dan minat Anda. Jangan merasa pekerjaan dan kepribadian Anda tidak menarik bagi orang lain. Pelajari sebanyak mungkin tentang orang lain. Mereka akan merespon karena Anda tertarik kepada mereka.

Sumber

Bagaimana Mengatasi Kesepian

a. Merasa sepi di tengah keramaian?

Apakah anda pernah merasa kesepian, padahal anda sedang di tengah keramaian, sedang berjalan-jalan di Mal, menghadiri suatu seminar, atau sedang sibuk bekerja dikejar dead line? Pernahkah anda merasa sendiri, tak ada teman untuk berbagi, atau betul-betul ingin lari dari situasi saat ini yang terasa menekan? Jika anda mempunyai perasaan seperti tersebut, berhati-hatilah, karena rasa kesepian dapat merusak kesehatan (Forum Keadilan, 2007).

Kesepian merupakan salah satu bentuk kesedihan. Kesepian menurut ilmu psikologi merupakan perasaan terkucil, penuh kesedihan karena merasa dirinya hanya hanya hidup seorang diri. Rasa sepi ini berasal dari hati, sehingga lingkungan pekerjaan yang sibuk dan teman-teman di sekelilingpun, tak akan mampu mengusir rasa sepi (Forum Keadilan, 2007). Selanjutnya dijelaskan pula, bahwa rasa kesepian ini banyak melanda wanita karir dan profesional muda.

b. Kesepian dilihat dari sudut kesehatan.

Dalam ilmu psikoterapi, hanya ada satu penyebab penyakit, yaitu gangguan dalam pergaulan. Dan pergaulan telah dimulai sejak bayi dilahirkan. Lukman, Berger menjelaskan bahwa menjadi tua merupakan beban bagi banyak orang, karena pertambahan umur disertai dengan kehilangan banyak peranan. Sedangkan Ruddock (dalam Roles and Relationship) berpendapat, bahwa hidup sosial merupakan aktivitas orang yang membutuhkan peranan, dan mencari orang yang bersedia memainkan peranan yang komplementer (Anna A., M.Sidharta, dan M.A.W. Brouwer, 1980).

Forum K. menjelaskan, bahwa penelitian di Inggris mengungkapkan, usia paruh baya adalah usia yang paling sering merasa kesepian. Lebih dari sekitar 75% orang dewasa merasa kesepian, dengan rata-rata usia 40 tahun an adalah usia yang paling mengalami kesepian. Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam Journal of Clinical Nursing meneliti sekitar 1300 orang dengan kisaran usia di atas 18 tahun di Australia, menemukan bahwa rasa kesepian sangat jarang dijumpai pada usia remaja dan usia di atas 50 tahun. Hasil penelitian tersebut belum dapat dikatakan final, karena tak semua orang menganggap kesendirian atau kesepian itu sebagai hal yang negatif, bahkan ada beberapa orang yang memilih kesunyian sebagai bagian dari hidup mereka, seperti yang diungkapkan DR. Athur Cassidy dari Belfast Institute.

Survei tersebut menemukan bahwa mereka yang memiliki keyakinan iman yang kuat cenderung lebih suka hidup menyepi, tak peduli usia mereka. Dalam hal ini wanita yang menempati posisi paling banyak untuk memilih hidup membaktikan diri pada keyakinan mereka, dan sangat jarang sekali para wanita ini mengeluh dengan kesendirian mereka.

c. Bagaimana cara mengatasi agar tak merasa kesepian?

Dari tulisan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesepian tak hanya melanda orang yang telah berumur tua. Bahkan bagi orang tua, yang memiliki iman kuat, dan membaktikan diri pada keyakinan mereka untuk menyepi, jarang mengeluh tentang kesendirian mereka.

Apa artinya?

Bahwa rasa sepi sangat dipengaruhi oleh sifat seseorang, dan adaptasi terhadap faktor lingkungan. Jika seseorang mempunyai sifat yang selalu menginginkan adanya orang lain, keinginan untuk mendapatkan peranan, maka risiko untuk kesepian akan lebih tinggi. Hal ini berbeda dengan orang yang supel (mudah berteman), mandiri, mempunyai keimanan dan keyakinan kuat, sehingga ada atau tiadanya teman tak ada pengaruhnya. Apalagi jika orang tersebut mempunyai hobi dan bisa menyibukkan diri sendiri, seperti membaca, menulis, aktif pada kegiatan sosial, dsb nya. Hal ini terlihat, mengapa dari hasil penelitian, rasa kesepian sangat jarang dijumpai pada usia remaja dan di atas usia 50 tahun.

Usia remaja adalah masa-masa sangat senang bergaul bersama teman, sedang usia di atas 50 tahun, pada umumnya telah siap dengan apa yang akan dilakukan pada masa usia pensiun. Walau demikian tak berarti usia remaja dan usia di atas 50 tahun tak ada yang mengalami rasa kesepian.

Apa yang sebaiknya dilakukan agar tak terserang rasa kesepian?

1. Melakukan kesibukan sesuai hobi, karena kesibukan yang dilakukan sesuai hobi akan mendorong rasa gembira.
2. Melakukan aktifitas yang tak selalu tergantung ada tidaknya orang lain, seperti: membaca, menulis, berkebun dsb nya
3. Ikhlas dalam melakukan sesuatu. Apabila sesuatu dilakukan secara ikhlas, apapun hasilnya, tidak akan membuat penyesalan.

Kesepian

· Pengertian Kesepian

· Kesepian merupakan kondisi yang tidak menyenangkan, dan berdasarkan pengalaman berhubungan dengan tidak mencukupinya kebutuhan akan bentuk hubungan yang akrab atau intimasi (Sullivan dalam perlman & Peplau, 1982). Sermat (dalam Peplau & Perlman, 1982) berpendapat bahwa kesepian merupakan hasil dari interpretasi dan evaluasi individu terhadap hubungan sosial yang dianggap tidak memuaskan. Orang akan merasa kesepian bila intensitas hubungan social yang diharapkannya tidak sesuai atau kurang dari apa yang merupakan kenyataannya. Sedangkan Peplau dan Perlman (1982) mendifinisikan kesepian sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan, yang terjadi ketika hubungan social individu tidak berjalan sesuai yang diharapkannya. Young (dalam Perlman & Peplau, 1982) menyatakan bahwa kesepian merupakan respon individu atas ketidakhadiran yang dirasa sangat penting dari social reinforcement. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah keadaan yang diakibatkan oleh perasaan tidak pernuhi kebutuhan keakraban, adanya hasil persepsi dan evaluasi hubungan social yang kurang memuaskan, dan kurang adanya reinforcement sosial. Karakteristik Kesepian Fromm-Reichman, Lopata, dan Young (dalam Yuniarti, 2002) menyebutkan karakteritik kesepian adalah sebagai berikut: tidak terpenuhinya kebutuhan akan keakraban, hasil persepsi dan evaluasi hubungan sosial yang kurang memuaskan, kurang adanya reinforcement sosial.

Pengertian dan Ciri-ciri Keberanian

Pengertian Keberanian

Keberanian adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk. Aristoteles mengatakan bahwa, “The conquering of fear is the beginning of wisdom. Kemampuan menahklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan.” Artinya, orang yang mempunyai keberanian akan mampu bertindak bijaksana tanpa dibayangi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya merupakan halusinasi belaka. Orang-orang yang mempunyai keberanian akan sanggup menghidupkan mimpi-mimpi dan mengubah kehidupan pribadi sekaligus orang-orang di sekitarnya.

Hanya diri kita yang mampu mengukur apakah keberanian kita cukup besar? Marilyn King mengatakan bahwa keberanian kita secara garis besar dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu visi (vision), tindakan nyata (action), dan semangat (passion). Ketiga hal tersebut mampu mengatasi rasa khawatir, ketakutan, dan memudahkan kita meraih impian-impian.

Berdasarkan visi atau tujuan yang ingin kita capai, satu hal yang terpenting adalah kita harus menciptakan kemajuan. Menurut Vince Lombardi, seorang pelatih rugby ternama di dunia, upaya menciptakan kemajuan akan berjalan secara bertahap. Adanya perubahan menjadikan diri kita berani membuat kemajuan yang lebih besar. Karena itu Anthony J. D'Angelo menegaskan, “Don't fear change, embrace it. – Jangan pernah takut pada perubahan, tetapi peluklah ia erat.” Maka perjelas visi, supaya berpengaruh signifikan terhadap keberanian.

Menurut Peter Irons keberanian adalah suatu tindakan memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting dan mampu menghadapi segala sesuatu yang dapat menghalanginya karena percaya kebenarannya.

Paul Findley mengatakan bahwa keberanian adalah suatu sifat mempertahankan dan memperjuangkan apa yang dianggap benar dengan menghadapi segala bentuk bahaya, kesulitan, kesakitan, dan lain-lain.

Hidup tanpa keberanian adalah hidup yang sia-sia. Hidup dan keberanian ibarat tubuh dan bayang-bayang. Kemana pun kita pergi dia selalu mengikuti. Hidup ini begitu penuh pilihan, maka beranilah memilih. Apapun pilihan yang kita ambil selama berpijak dari pemahaman tentang hidup yang utuh tak akan menjadi pilihan yang salah. Maka, keberanian adalah sebuah iman. Ketika kita mendengar, melihat dan berbicara dengan hati kita, maka apapun tindakan, pikiran dan ekspresi yang kita lakukan bukan keberanian lagi namanya. Ia sudah menjadi iman yang hidup.

Hidup ini begitu penuh pilihan, maka beranilah memilih. Apapun pilihan yang kita ambil selama berpijak dari pemahaman tentang hidup yang utuh tak akan menjadi pilihan yang salah. Seorang korban gempa Tsunami Aceh berhasil bertahan hidup selama berhari-hari terapung di laut lepas. Apa yang membuatnya memiliki energi mukjijat yang membawanya pada pertemuan dengan penyelamatnya? Sebuah sikap jiwa bernama keberanian. Ketika ia bertekat, “aku ingin hidup”. Dan terjadilah. Ia menjadi salah satu pencerita yang real tentang bagaimana energi hidup dari sebuah keberanian membuatnya selamat.

Keberanian adalah sebuah iman. Apa yang membuat Muhammad yang buta huruf berani mewartakan sang Sabda yang telah berbicara dengannya? Keberanian mendengar tuntunan terang Ilahi. Apa yang membuat Siddharta berani meninggalkan gemerlapnya istana dan hidup dengan apa yang didapatnya saja selama perjalanannya? Keberanian mencari kebenaran sejati.

Apa yang membuat Yesus menerima semua penderitaan yang ditanggungnya hingga desah nafas terakhirnya di kayu salib? Keberanian menerima rencana Ilahi yang telah digariskan padanya. Apa asal-muasal Bandara yang penuh pesawat dan bergantian terbang dan mendarat? Keberanian Wright bersaudara mewujudkan sesuatu yang dianggap mustahil pada jamannya.

Keberanian adalah sebuah iman. Ketika kita mendengar, melihat dan berbicara dengan hati kita, maka apapun tindakan, pikiran dan ekspresi yang kita lakukan bukan keberanian lagi namanya. Ia sudah menjadi iman yang hidup.

Ciri-ciri umum dan khusus dari keberanian

Ciri-ciri umum keberanian :

* adanya tekad
* percaya diri
* Konsistensi
* Optimisme

Ciri-ciri khusus keberanian :

* berpikir secara matang dan terukur sebelum bertindak
* mampu memotivasi orang lain
* selalu tahu diri, rendah hati, dan mengisi jiwa serta pikiran dengan pengetahuan baru menuju ke arah yang benar
* bertindak nyata
* semangat
* menciptakan kemajuan
* siap menanggung resiko
* konsisten/istiqomah

Sumber Bacaan :

* Findley, Paul. 1995. Mereka Berani Bicara. Bandung: Mizan.
* Irons, Peter. 2003. Keberanian Mereka yang Berpendirian. Bandung: Angkasa.
* Gunn, Anthony. 2007. Fear is Power, Turn Your Fear into Succes. Jakarta: Hikmah.
* Zaman, Munawar. 2007. Jangan Takut Married. Bandung: Mizan
* Suyatna, Hempri. 2007. Evomorales (presiden bolivia menantang AS). Jakarta: Hikmah.
* Koya, Abdurrahman. Party of God, an Islamic Movement perspective. Jakarta: Hikmah.
* Labib, Muchsin, Ahmadinejad. 2007. David di Tengah Angkara Goliath Dunia. Jakarta: Hikmah.
* www.Blogspot.com. Arti-sebuah-keberanian.html.
* www.konsultasi.org
* Brave of psychology

Keberanian

saya pikir orang yang berani itu adalah orang yang:

...pantang menyerah
...berani menghadapi rasa takut di hatinya sendiri
...tidak gentar saat berhadapan dengan tantangan
...tidak malu mengakui kesalahan dan kelemahan diri sendiri
...mau mengakui keberhasilan dan kelebihan orang lain
...mau berusaha untuk menggapai cita-cita yang paling tinggi sekalipun
...tidak berkecil hati saat mendapatkan hinaan
...tidak mundur saat mendapatkan penolakan
...menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang lumrah
...tidak mencontek (bagi pelajar)
...tidak korupsi (bagi pejabat)
...tidak curang (bagi olahragawan)
...tidak mengeluh saat rugi (bagi pengusaha)
...tidak mendua apalagi ngelaba (bagi orang pacaran)
...tidak selingkuh dengan diam-diam (terang2an berani gak hayo?? he"..)
...tidak ngumpetin uang dari suami/istri
...tidak melecehkan orang yang lebih muda usianya
...tidak kurang ajar sama yang lebih tua
...sportif
...jujur
...adil
...lebih suka memberi daripada menerima

Keberanian sebagai ruh praktik mencintai

Cinta dan keberanian menempati posisi kunci dalam kehidupan manusia, keduanya sebagai potensi yang sama-sama asasi. Sintesis sederhana yang dibuat atas keduanya sering kita dengar dalam ungkapan: “cinta melahirkan keberanian” dan “dibutuhkan keberanian untuk mencintai”. Tetapi sekedar sebagai ikhtiar, penulis berpendapat bahwa yang satu dapat dianggap lebih dahulu dari pada yang lainnya.

Menurut saya, cinta lebih purba dibandingkan keberanian. Cinta adalah potensi spiritual yang tertanam kuat dalam jiwa manusia—ia mendahului semua bentuk pengungkapan verbal. Cinta pertama-tama dirasakan sebagai pengalaman kehadiran, pengalaman akan “perasaan mengingini sesuatu” yang hadir sebelum semua refleksi diniatkan. Rasa syukur akan pengalaman kehadiran tersebut kemudian hadir dalam banyak rupa—wujud dari artikulasi ketakjuban. Semua kebudayaan di dunia ini pasti mengenal dan mempraktikkan cinta dengan caranya masing-masing. Namun, cinta tak bakal berjejak di dunia ini andaikata tidak ada energi yang menggerakkannya. Mengamini pendapat Rollo May, bahwa sejatinya, semua potensi produktif manusia digerakkan oleh energi keberanian, tak terkecuali dorongan mencintai. Bagi May, mencintai adalah lelaku yang tidak pernah sudah, merongrong sekaligus menjamin eksistensi—darinya semua pengalaman terintegrasi dan terus menjadi.

Meskipun pada hakikatnya dorongan mencintai itu sudah tertanam kuat dalam diri manusia—tetapi untuk menjejakkannya dalam kehidupan nyata, dibutuhkan keberanian terus-menerus untuk menguji dan meningkatkan kualitas mencintai itu sendiri. Mencintai adalah proses pengenalan akan yang beda, yang misterius, sehingga untuk mengamalkannya secara otomatis akan bersentuhan dengan wilayah epistemologi dan etika.

Epistemologi mencintai digerakkan oleh keberanian untuk mengenal dan menerima “keberbedaan” yang lain, karena secara naluriah pengenalan akan yang beda tidak hanya menghasilkan pengalaman ketakjuban semata, namun sering kali diikuti dengan ketakutan dan kejijikan—di mana hal itu mendorong kita untuk mencari kompensasi psikis—yaitu dengan menundukkan dan menjinakkan yang beda itu. Hanya dengan keberanian untuk menundukkan ketakutan dan kejijikan itu, kita akan mampu menerima keberbedaan itu. Ketika yang beda itu kita tempatkan sebagai yang asing dan menakutkan, tentunya kita akan enggan mengikatkan diri dengannya. Kita akan mendudukannya sebagai “kamu” yang jahat dan menjijikkan dimata “aku”. Lain halnya ketika kita melihat yang beda itu dalam kemandiriannya dan menghargai setiap momen aktualitasnya, maka, relasi diri yang pada awalnya bersifat “kamu-aku” naik derajatnya menjadi “kita”.

Pengalaman akan keberbedaan atas yang lain juga menyimpan semacam seruan etis. Emanuel Levinas menyimbolkan yang beda sebagai “wajah”. Setiap kita berjumpa dengan wajah yang lain, tanpa disadari kita telah tersituasikan untuk menerimanya tanpa syarat. Keberbedaannya atau dalam bahasa Levinas, alteritasnya, melahirkan dorongan etis dalam bentuk penghormatan dan seruan melestarikan. Keberanian etis dalam konteks ini adalah keberanian untuk mengebiri setiap nafsu penaklukan yang biasanya muncul dalam kalkulasi matematis yang berujung pada perhitungan untung-rugi dan habis-bagi. Dengan demikian, mencintai adalah keberanian menaklukkan diri sendiri.

Sebagai bahan renungan, di tengah-tengah serbuan pengalaman negatif yang bertubi-tubi akhir-akhir ini—kita memang sering kehilangan semangat untuk sekedar memikirkan ketulusan praktik mencintai—atau setidaknya masih memperbincangkannya dalam obrolan sehari-hari. Namun, saya meyakini bahwa kita semua senantiasa memimpikan terwujudnya kehidupan yang lebih damai dan sejahtera. Barangkali bukan sekedar regulasi politik, ekonomi, hukum, atau entah apa lagi, yang mampu menciptakan kesejahteraan dan kedamaian di negeri ini, tetapi keberanian para pemimpinnya untuk mencintai dan menghormati hak-hak rakyatnya.

Membuat Game Catur Sederhana Menggunakan Java

Setelah penulis mencoba-coba beberapa kali membuat game sederhana menggunakan beberapa bahasa pemrograman namun hasilnya kurang memuaskan. Dibutuhkan AI atau Artificial Intellegence yang ilmu saya sendiri belum mumpuni sapai kesitu.
NAmun setelah hunting ke beberapas situs lokal dan luar akhirnya saya menemukan source code untuk game catur tersebut menggunakan bahasa pemrograman java. Kurang lebih setelah di compile hasil screen shotnya seperti gambar berikut ini



Memang tidak mudah untuk membuat game ternyata, saya hampir give up karenanya. Supaya anda lebih paham bagaimana game ini diuat dan memainkannya, lebih baik anda mancobanya sendiri dengan mengkopi dan paste source code dibawah ini untuk kemudian di compile untuk melihat hasil outputnya. Karena sudah saya coba bisa jalan. Untuk souce code nya sendiri silakan juragan liat berikut :

import java.awt.BorderLayout;
import java.awt.Color;
import java.awt.ComponentOrientation;
import java.awt.Cursor;
import java.awt.GridLayout;
import java.awt.event.InputEvent;
import java.awt.image.BufferedImage;
import java.io.IOException;
import java.io.InputStream;
import java.util.Map;
import java.util.TreeMap;

import javax.imageio.ImageIO;
import javax.swing.ImageIcon;
import javax.swing.JButton;
import javax.swing.JFrame;
import javax.swing.JLabel;
import javax.swing.JOptionPane;
import javax.swing.JPanel;
import javax.swing.JToolBar;
import java.awt.Dimension;

public class ChessGame extends JFrame {
private static final long serialVersionUID = 1L;

private JPanel jContentPane = null;

private JPanel jPanel = null;

private JToolBar tlbMain = null;
private JLabel lblCells[] = new JLabel[64];

private String jPieces[][] = new String[8][8]; // @jve:decl-index=0:

private JButton btnNewGame = null;

private JLabel lblStatus = null;

private int heldX, heldY, heldI = -1;

// Map the full names of the pieces to their codenames (wRook, wQueen, etc.)
private Map pieceName = new TreeMap(); // @jve:decl-index=0:

private JLabel lblCurrPlayer = null;

// Stores the current player's move - we can easily match it against
// the first character of the pieces array
private char currPlayer = ' ';

private JButton btnUndo = null;

private int[][] moves = new int[10][6];
private String movedPieces[] = new String[10];

private int currMove = 0;

/**
* This is the default constructor
*/
public ChessGame() {
super();
initialize();
buildBoard();
}

/**
* This method initializes btnUndo
*
* @return javax.swing.JButton
*/
private JButton getBtnUndo() {
if (btnUndo == null) {
btnUndo = new JButton();
btnUndo.setText("Undo");
btnUndo.setEnabled(false);
btnUndo.addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseReleased(java.awt.event.MouseEvent e) {
undoMove();
}
});
}
return btnUndo;
}

public static void main( String args[] ) {
new ChessGame().setVisible(true);
}

/**
* This method initializes this
*
* @return void
*/
private void initialize() {
this.setSize(671, 555);
this.setContentPane(getJContentPane());
this.setTitle("Basic Chess");
this.setExtendedState(JFrame.MAXIMIZED_BOTH);
}

/**
* This method initializes jContentPane
*
* @return javax.swing.JPanel
*/
private JPanel getJContentPane() {
if (jContentPane == null) {
jContentPane = new JPanel();
jContentPane.setLayout(new BorderLayout());
jContentPane.add(getJPanel(), BorderLayout.CENTER);
jContentPane.add(getTlbMain(), BorderLayout.NORTH);
}
return jContentPane;
}

/**
* This method initializes jPanel
*
* @return javax.swing.JPanel
*/
private JPanel getJPanel() {
if (jPanel == null) {
GridLayout gridLayout = new GridLayout();
gridLayout.setRows(8);
gridLayout.setHgap(5);
gridLayout.setVgap(5);
gridLayout.setColumns(8);
jPanel = new JPanel();
jPanel.setLayout(gridLayout);
//buildBoard();
}
return jPanel;
}

private void newGame()
{
resetBoard();
resetPieces();
}

private void resetPieces()
{
jPieces = new String[8][8];
jPieces[0][0] = "bRook";
jPieces[0][1] = "bKnight";
jPieces[0][2] = "bBishop";
jPieces[0][3] = "bKing";
jPieces[0][4] = "bQueen";
jPieces[0][5] = "bBishop";
jPieces[0][6] = "bKnight";
jPieces[0][7] = "bRook";
jPieces[1][0] = "bPawn";
jPieces[1][1] = "bPawn";
jPieces[1][2] = "bPawn";
jPieces[1][3] = "bPawn";
jPieces[1][4] = "bPawn";
jPieces[1][5] = "bPawn";
jPieces[1][6] = "bPawn";
jPieces[1][7] = "bPawn";

jPieces[6][0] = "wPawn";
jPieces[6][1] = "wPawn";
jPieces[6][2] = "wPawn";
jPieces[6][3] = "wPawn";
jPieces[6][4] = "wPawn";
jPieces[6][5] = "wPawn";
jPieces[6][6] = "wPawn";
jPieces[6][7] = "wPawn";
jPieces[7][0] = "wRook";
jPieces[7][1] = "wKnight";
jPieces[7][2] = "wBishop";
jPieces[7][3] = "wKing";
jPieces[7][4] = "wQueen";
jPieces[7][5] = "wBishop";
jPieces[7][6] = "wKnight";
jPieces[7][7] = "wRook";
RepaintPieces();
}

private void PaintPiece(String pieceName, int i)
{
try
{
if(pieceName != null && pieceName != "")
{
InputStream inIcon = ClassLoader.getSystemResourceAsStream("pociu/games/chess/" + pieceName + ".png");
BufferedImage imgIcon = ImageIO.read(inIcon);
lblCells[i].setIcon(new ImageIcon(imgIcon));
//System.out.println("Painted " + pieceName + " at " + i);
}
else
{
lblCells[i].setIcon(null);
//System.out.println("Cleared cell at " + i);
}
}
catch(IOException e)
{
e.printStackTrace();
}. }

private void RepaintPieces()
{
int i = 0;
for(int x = 0; x < 8; x++)
{
for(int y = 0; y < 8; y++)
{
if(jPieces[x][y] != null && !jPieces[x][y].equals(""))
{
PaintPiece(jPieces[x][y], i);
}
else
{
PaintPiece("", i);
}
i++;
}
}
}

private void ClearHlight(int i, int rowNum)
{
if((i + rowNum) % 2 == 0)
{
lblCells[i].setBackground(Color.WHITE);
}
else
{
lblCells[i].setBackground(Color.GRAY);
}
}

private void undoMove()
{
if(btnUndo.isEnabled() && currMove > 0)
{
currMove--;
movePiece(moves[currMove][3], moves[currMove][4], moves[currMove][5], moves[currMove][0], moves[currMove][1], moves[currMove][2], true);
}
}

private void resetBoard()
{
currMove = 0;
pieceName.clear();
pieceName.put("bRook", "Black Rook");
pieceName.put("bQueen", "Black Queen");
pieceName.put("bPawn", "Black Pawn");
pieceName.put("bKnight", "Black Knight");
pieceName.put("bBishop", "Black Bishop");
pieceName.put("bKing", "Black King");
pieceName.put("wRook", "White Rook");
pieceName.put("wQueen", "White Queen");
pieceName.put("wPawn", "White Pawn");
pieceName.put("wKnight", "White Knight");
pieceName.put("wBishop", "White Bishop");
pieceName.put("wKing", "White King");
pieceName.put("wRook", "White Rook");

// If we're holding a piece, clear the hover of the cell
if(heldI >= 0 && heldX >= 0)
{
ClearHlight(heldI, heldX);
}

switchPlayer();

heldX = heldY = heldI = -1;
}

private void buildBoard()
{
// First reset the variables, maps, etc.
resetBoard();

int rowColor = 0;
int i = 0;
for(int x = 0; x <= 7; x++)
{
rowColor++;
for(int y = 0; y <= 7; y++)
{
lblCells[i] = new JLabel("", JLabel.CENTER);
lblCells[i].setOpaque(true);
if(rowColor % 2 == 0)
{
lblCells[i].setBackground(Color.GRAY);
}
else
{
lblCells[i].setBackground(Color.WHITE);
}

final int passX = x;
final int passY = y;
final int passI = i;

lblCells[i].addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseEntered(java.awt.event.MouseEvent e) {
// If we're holding a piece show that along with the cell we're hovering
if(heldI > 0)
{
lblStatus.setText("Picked up " + pieceName.get(jPieces[heldX][heldY]) + " at " + showBoardRelative(heldX, heldY) + " | Hovering: " + showBoardRelative(passX, passY));
}
else // Just show what we're hovering
{
lblStatus.setText("Hovering: " + showBoardRelative(passX, passY));
}
// Unless we hover the one we're holding...
if(passI != heldI)
{
lblCells[passI].setBackground(Color.DARK_GRAY);
}
}
});

lblCells[i].addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseExited(java.awt.event.MouseEvent e) {
lblStatus.setText("");
// Unless we hover the one we're holding...
if(passI != heldI)
{
// Clear the hover effect
ClearHlight(passI, passX);
}
}
});

lblCells[i].addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseReleased(java.awt.event.MouseEvent e) {
if(e.getModifiers() == InputEvent.BUTTON3_MASK)
{
showCellInfo(passX, passY, passI);
}
else if(e.getModifiers() == InputEvent.BUTTON1_MASK)
{
clickCell(e, passX, passY, passI);
}
}
});

jPanel.add(lblCells[i]);
rowColor++;
i++;
}
}
resetPieces();
}

// Translates grid relative coordinates to chess board relative
// For ex.: 0x0 to 8A
private String showBoardRelative(int x, int y)
{
String chessCoord = "";
chessCoord = (x - 8) * -1 + "" + (char)(y + 65);
return chessCoord;
}

private void showCellInfo(int x, int y, int i)
{
if(jPieces[x][y] != null && !jPieces[x][y].equals(""))
{
JOptionPane.showMessageDialog( null, pieceName.get(jPieces[x][y]) + " located at " + showBoardRelative(x, y), "Cell Information", JOptionPane.INFORMATION_MESSAGE );
}
else
{
JOptionPane.showMessageDialog( null, "No piece located at " + showBoardRelative(x, y), "Cell Information", JOptionPane.INFORMATION_MESSAGE );
}
}

private boolean isValidMove(int fromX, int fromY)
{
if(jPieces[fromX][fromY].length() > 0 && jPieces[fromX][fromY].charAt(0) == currPlayer)
{
return true;
}
else
{
return false;
}
}

private void movePiece(int fromX, int fromY, int fromI, int toX, int toY, int toI, boolean isUndo)
{
if(fromX == toX && fromY == toY)
{
ClearHlight(fromI, fromX);
lblStatus.setText("Move canceled.");
}
else if(isValidMove(fromX, fromY) || isUndo == true)
{
PaintPiece(jPieces[fromX][fromY], toI);
PaintPiece("", fromI);
ClearHlight(fromI, fromX);
lblStatus.setText("Moved " + pieceName.get(jPieces[fromX][fromY]) + " from " + showBoardRelative(fromX, fromY) + " to " + showBoardRelative(toX, toY));
jPieces[toX][toY] = jPieces[fromX][fromY];
jPieces[fromX][fromY] = "";
if(currMove > 9)
{
pushbackUndos();
}
moves[currMove] = new int[6];
moves[currMove][0] = fromX;
moves[currMove][1] = fromY;
moves[currMove][2] = fromI;
moves[currMove][3] = toX;
moves[currMove][4] = toY;
moves[currMove][5] = toI;
movedPieces[currMove] = jPieces[fromX][fromY];
btnUndo.setEnabled(true);
if(isUndo == false)
{
currMove++;
}
switchPlayer();
}
else
{
ClearHlight(fromI, fromX);
JOptionPane.showMessageDialog( null, "It's the " + lblCurrPlayer.getText(), "Illegal Move", JOptionPane.INFORMATION_MESSAGE );
}
}

private void pushbackUndos()
{
for(int i = 0; i < 9; i++)
{
moves[i] = moves[i + 1];
movedPieces[i] = movedPieces[i + 1];
}
currMove--;
}

private void switchPlayer()
{
//System.out.write(currPlayer);
if(currPlayer == 'w')
{
currPlayer = 'b';
lblCurrPlayer.setText("Black Player's Turn.");
lblCurrPlayer.setBackground(Color.BLACK);
lblCurrPlayer.setForeground(Color.WHITE);
}
else if(currPlayer == 'b' || currPlayer == ' ')
{
currPlayer = 'w';
lblCurrPlayer.setText("White Player's Turn.");
lblCurrPlayer.setBackground(Color.WHITE);
lblCurrPlayer.setForeground(Color.BLACK);
}
}

private void clickCell(java.awt.event.MouseEvent e, int x, int y, int i)
{
JLabel lblClicked = (JLabel)e.getSource();
if(heldI != -1) // We're dropping a piece
{
jContentPane.setCursor(Cursor.getPredefinedCursor(Cursor.DEFAULT_CURSOR));
movePiece(heldX, heldY, heldI, x, y, i, false);
heldX = heldY = heldI = -1;
}
else // We're picking up a piece
{
if(jPieces[x][y] == null || jPieces[x][y].equals(""))
{
lblStatus.setText("No piece to pick up.");
}
else
{
jContentPane.setCursor(Cursor.getPredefinedCursor(Cursor.HAND_CURSOR));
lblClicked.setBackground(new Color(255, 176, 70));
lblStatus.setText("Picked up " + pieceName.get(jPieces[x][y]) + " from " + showBoardRelative(x, y));
heldX = x;
heldY = y;
heldI = i;
}
}
}

/**
* This method initializes tlbMain
*
* @return javax.swing.JToolBar
*/
private JToolBar getTlbMain() {
if (tlbMain == null) {
lblCurrPlayer = new JLabel();
lblCurrPlayer.setText("");
lblCurrPlayer.setOpaque(true);
lblStatus = new JLabel();
lblStatus.setText("");
lblStatus.setPreferredSize(new Dimension(200, 16));
lblStatus.setSize(new Dimension(200, 16));
tlbMain = new JToolBar();
tlbMain.setOrientation(JToolBar.HORIZONTAL);
tlbMain.setComponentOrientation(ComponentOrientation.LEFT_TO_RIGHT);
tlbMain.setFloatable(false);
tlbMain.add(getBtnNewGame());
tlbMain.add(new JToolBar.Separator());
tlbMain.add(getBtnUndo());
tlbMain.add(new JToolBar.Separator());
tlbMain.add(lblCurrPlayer);
tlbMain.add(new JToolBar.Separator());
tlbMain.add(lblStatus);
}
return tlbMain;
}

/**
* This method initializes btnNewGame
*
* @return javax.swing.JButton
*/
private JButton getBtnNewGame() {
if (btnNewGame == null) {
btnNewGame = new JButton();
btnNewGame.setText("New Game");
btnNewGame.addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseReleased(java.awt.event.MouseEvent e) {
if(JOptionPane.YES_OPTION == JOptionPane.showConfirmDialog(null, "Are you sure you wish to end this game?"))
{
newGame();
}
}
});
}
return btnNewGame;
}

} // @jve:decl-index=0:visual-constraint="10,10"


Selamat Mencoba....