About my Blog

Share Information; Blogs, Travel, Technology, Tutorial, Business, College and etc.

Jumat, 04 Juni 2010

Kesepian

· Pengertian Kesepian

· Kesepian merupakan kondisi yang tidak menyenangkan, dan berdasarkan pengalaman berhubungan dengan tidak mencukupinya kebutuhan akan bentuk hubungan yang akrab atau intimasi (Sullivan dalam perlman & Peplau, 1982). Sermat (dalam Peplau & Perlman, 1982) berpendapat bahwa kesepian merupakan hasil dari interpretasi dan evaluasi individu terhadap hubungan sosial yang dianggap tidak memuaskan. Orang akan merasa kesepian bila intensitas hubungan social yang diharapkannya tidak sesuai atau kurang dari apa yang merupakan kenyataannya. Sedangkan Peplau dan Perlman (1982) mendifinisikan kesepian sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan, yang terjadi ketika hubungan social individu tidak berjalan sesuai yang diharapkannya. Young (dalam Perlman & Peplau, 1982) menyatakan bahwa kesepian merupakan respon individu atas ketidakhadiran yang dirasa sangat penting dari social reinforcement. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah keadaan yang diakibatkan oleh perasaan tidak pernuhi kebutuhan keakraban, adanya hasil persepsi dan evaluasi hubungan social yang kurang memuaskan, dan kurang adanya reinforcement sosial. Karakteristik Kesepian Fromm-Reichman, Lopata, dan Young (dalam Yuniarti, 2002) menyebutkan karakteritik kesepian adalah sebagai berikut: tidak terpenuhinya kebutuhan akan keakraban, hasil persepsi dan evaluasi hubungan sosial yang kurang memuaskan, kurang adanya reinforcement sosial.

Pengertian dan Ciri-ciri Keberanian

Pengertian Keberanian

Keberanian adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk. Aristoteles mengatakan bahwa, “The conquering of fear is the beginning of wisdom. Kemampuan menahklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan.” Artinya, orang yang mempunyai keberanian akan mampu bertindak bijaksana tanpa dibayangi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya merupakan halusinasi belaka. Orang-orang yang mempunyai keberanian akan sanggup menghidupkan mimpi-mimpi dan mengubah kehidupan pribadi sekaligus orang-orang di sekitarnya.

Hanya diri kita yang mampu mengukur apakah keberanian kita cukup besar? Marilyn King mengatakan bahwa keberanian kita secara garis besar dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu visi (vision), tindakan nyata (action), dan semangat (passion). Ketiga hal tersebut mampu mengatasi rasa khawatir, ketakutan, dan memudahkan kita meraih impian-impian.

Berdasarkan visi atau tujuan yang ingin kita capai, satu hal yang terpenting adalah kita harus menciptakan kemajuan. Menurut Vince Lombardi, seorang pelatih rugby ternama di dunia, upaya menciptakan kemajuan akan berjalan secara bertahap. Adanya perubahan menjadikan diri kita berani membuat kemajuan yang lebih besar. Karena itu Anthony J. D'Angelo menegaskan, “Don't fear change, embrace it. – Jangan pernah takut pada perubahan, tetapi peluklah ia erat.” Maka perjelas visi, supaya berpengaruh signifikan terhadap keberanian.

Menurut Peter Irons keberanian adalah suatu tindakan memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting dan mampu menghadapi segala sesuatu yang dapat menghalanginya karena percaya kebenarannya.

Paul Findley mengatakan bahwa keberanian adalah suatu sifat mempertahankan dan memperjuangkan apa yang dianggap benar dengan menghadapi segala bentuk bahaya, kesulitan, kesakitan, dan lain-lain.

Hidup tanpa keberanian adalah hidup yang sia-sia. Hidup dan keberanian ibarat tubuh dan bayang-bayang. Kemana pun kita pergi dia selalu mengikuti. Hidup ini begitu penuh pilihan, maka beranilah memilih. Apapun pilihan yang kita ambil selama berpijak dari pemahaman tentang hidup yang utuh tak akan menjadi pilihan yang salah. Maka, keberanian adalah sebuah iman. Ketika kita mendengar, melihat dan berbicara dengan hati kita, maka apapun tindakan, pikiran dan ekspresi yang kita lakukan bukan keberanian lagi namanya. Ia sudah menjadi iman yang hidup.

Hidup ini begitu penuh pilihan, maka beranilah memilih. Apapun pilihan yang kita ambil selama berpijak dari pemahaman tentang hidup yang utuh tak akan menjadi pilihan yang salah. Seorang korban gempa Tsunami Aceh berhasil bertahan hidup selama berhari-hari terapung di laut lepas. Apa yang membuatnya memiliki energi mukjijat yang membawanya pada pertemuan dengan penyelamatnya? Sebuah sikap jiwa bernama keberanian. Ketika ia bertekat, “aku ingin hidup”. Dan terjadilah. Ia menjadi salah satu pencerita yang real tentang bagaimana energi hidup dari sebuah keberanian membuatnya selamat.

Keberanian adalah sebuah iman. Apa yang membuat Muhammad yang buta huruf berani mewartakan sang Sabda yang telah berbicara dengannya? Keberanian mendengar tuntunan terang Ilahi. Apa yang membuat Siddharta berani meninggalkan gemerlapnya istana dan hidup dengan apa yang didapatnya saja selama perjalanannya? Keberanian mencari kebenaran sejati.

Apa yang membuat Yesus menerima semua penderitaan yang ditanggungnya hingga desah nafas terakhirnya di kayu salib? Keberanian menerima rencana Ilahi yang telah digariskan padanya. Apa asal-muasal Bandara yang penuh pesawat dan bergantian terbang dan mendarat? Keberanian Wright bersaudara mewujudkan sesuatu yang dianggap mustahil pada jamannya.

Keberanian adalah sebuah iman. Ketika kita mendengar, melihat dan berbicara dengan hati kita, maka apapun tindakan, pikiran dan ekspresi yang kita lakukan bukan keberanian lagi namanya. Ia sudah menjadi iman yang hidup.

Ciri-ciri umum dan khusus dari keberanian

Ciri-ciri umum keberanian :

* adanya tekad
* percaya diri
* Konsistensi
* Optimisme

Ciri-ciri khusus keberanian :

* berpikir secara matang dan terukur sebelum bertindak
* mampu memotivasi orang lain
* selalu tahu diri, rendah hati, dan mengisi jiwa serta pikiran dengan pengetahuan baru menuju ke arah yang benar
* bertindak nyata
* semangat
* menciptakan kemajuan
* siap menanggung resiko
* konsisten/istiqomah

Sumber Bacaan :

* Findley, Paul. 1995. Mereka Berani Bicara. Bandung: Mizan.
* Irons, Peter. 2003. Keberanian Mereka yang Berpendirian. Bandung: Angkasa.
* Gunn, Anthony. 2007. Fear is Power, Turn Your Fear into Succes. Jakarta: Hikmah.
* Zaman, Munawar. 2007. Jangan Takut Married. Bandung: Mizan
* Suyatna, Hempri. 2007. Evomorales (presiden bolivia menantang AS). Jakarta: Hikmah.
* Koya, Abdurrahman. Party of God, an Islamic Movement perspective. Jakarta: Hikmah.
* Labib, Muchsin, Ahmadinejad. 2007. David di Tengah Angkara Goliath Dunia. Jakarta: Hikmah.
* www.Blogspot.com. Arti-sebuah-keberanian.html.
* www.konsultasi.org
* Brave of psychology

Keberanian

saya pikir orang yang berani itu adalah orang yang:

...pantang menyerah
...berani menghadapi rasa takut di hatinya sendiri
...tidak gentar saat berhadapan dengan tantangan
...tidak malu mengakui kesalahan dan kelemahan diri sendiri
...mau mengakui keberhasilan dan kelebihan orang lain
...mau berusaha untuk menggapai cita-cita yang paling tinggi sekalipun
...tidak berkecil hati saat mendapatkan hinaan
...tidak mundur saat mendapatkan penolakan
...menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang lumrah
...tidak mencontek (bagi pelajar)
...tidak korupsi (bagi pejabat)
...tidak curang (bagi olahragawan)
...tidak mengeluh saat rugi (bagi pengusaha)
...tidak mendua apalagi ngelaba (bagi orang pacaran)
...tidak selingkuh dengan diam-diam (terang2an berani gak hayo?? he"..)
...tidak ngumpetin uang dari suami/istri
...tidak melecehkan orang yang lebih muda usianya
...tidak kurang ajar sama yang lebih tua
...sportif
...jujur
...adil
...lebih suka memberi daripada menerima

Keberanian sebagai ruh praktik mencintai

Cinta dan keberanian menempati posisi kunci dalam kehidupan manusia, keduanya sebagai potensi yang sama-sama asasi. Sintesis sederhana yang dibuat atas keduanya sering kita dengar dalam ungkapan: “cinta melahirkan keberanian” dan “dibutuhkan keberanian untuk mencintai”. Tetapi sekedar sebagai ikhtiar, penulis berpendapat bahwa yang satu dapat dianggap lebih dahulu dari pada yang lainnya.

Menurut saya, cinta lebih purba dibandingkan keberanian. Cinta adalah potensi spiritual yang tertanam kuat dalam jiwa manusia—ia mendahului semua bentuk pengungkapan verbal. Cinta pertama-tama dirasakan sebagai pengalaman kehadiran, pengalaman akan “perasaan mengingini sesuatu” yang hadir sebelum semua refleksi diniatkan. Rasa syukur akan pengalaman kehadiran tersebut kemudian hadir dalam banyak rupa—wujud dari artikulasi ketakjuban. Semua kebudayaan di dunia ini pasti mengenal dan mempraktikkan cinta dengan caranya masing-masing. Namun, cinta tak bakal berjejak di dunia ini andaikata tidak ada energi yang menggerakkannya. Mengamini pendapat Rollo May, bahwa sejatinya, semua potensi produktif manusia digerakkan oleh energi keberanian, tak terkecuali dorongan mencintai. Bagi May, mencintai adalah lelaku yang tidak pernah sudah, merongrong sekaligus menjamin eksistensi—darinya semua pengalaman terintegrasi dan terus menjadi.

Meskipun pada hakikatnya dorongan mencintai itu sudah tertanam kuat dalam diri manusia—tetapi untuk menjejakkannya dalam kehidupan nyata, dibutuhkan keberanian terus-menerus untuk menguji dan meningkatkan kualitas mencintai itu sendiri. Mencintai adalah proses pengenalan akan yang beda, yang misterius, sehingga untuk mengamalkannya secara otomatis akan bersentuhan dengan wilayah epistemologi dan etika.

Epistemologi mencintai digerakkan oleh keberanian untuk mengenal dan menerima “keberbedaan” yang lain, karena secara naluriah pengenalan akan yang beda tidak hanya menghasilkan pengalaman ketakjuban semata, namun sering kali diikuti dengan ketakutan dan kejijikan—di mana hal itu mendorong kita untuk mencari kompensasi psikis—yaitu dengan menundukkan dan menjinakkan yang beda itu. Hanya dengan keberanian untuk menundukkan ketakutan dan kejijikan itu, kita akan mampu menerima keberbedaan itu. Ketika yang beda itu kita tempatkan sebagai yang asing dan menakutkan, tentunya kita akan enggan mengikatkan diri dengannya. Kita akan mendudukannya sebagai “kamu” yang jahat dan menjijikkan dimata “aku”. Lain halnya ketika kita melihat yang beda itu dalam kemandiriannya dan menghargai setiap momen aktualitasnya, maka, relasi diri yang pada awalnya bersifat “kamu-aku” naik derajatnya menjadi “kita”.

Pengalaman akan keberbedaan atas yang lain juga menyimpan semacam seruan etis. Emanuel Levinas menyimbolkan yang beda sebagai “wajah”. Setiap kita berjumpa dengan wajah yang lain, tanpa disadari kita telah tersituasikan untuk menerimanya tanpa syarat. Keberbedaannya atau dalam bahasa Levinas, alteritasnya, melahirkan dorongan etis dalam bentuk penghormatan dan seruan melestarikan. Keberanian etis dalam konteks ini adalah keberanian untuk mengebiri setiap nafsu penaklukan yang biasanya muncul dalam kalkulasi matematis yang berujung pada perhitungan untung-rugi dan habis-bagi. Dengan demikian, mencintai adalah keberanian menaklukkan diri sendiri.

Sebagai bahan renungan, di tengah-tengah serbuan pengalaman negatif yang bertubi-tubi akhir-akhir ini—kita memang sering kehilangan semangat untuk sekedar memikirkan ketulusan praktik mencintai—atau setidaknya masih memperbincangkannya dalam obrolan sehari-hari. Namun, saya meyakini bahwa kita semua senantiasa memimpikan terwujudnya kehidupan yang lebih damai dan sejahtera. Barangkali bukan sekedar regulasi politik, ekonomi, hukum, atau entah apa lagi, yang mampu menciptakan kesejahteraan dan kedamaian di negeri ini, tetapi keberanian para pemimpinnya untuk mencintai dan menghormati hak-hak rakyatnya.

Membuat Game Catur Sederhana Menggunakan Java

Setelah penulis mencoba-coba beberapa kali membuat game sederhana menggunakan beberapa bahasa pemrograman namun hasilnya kurang memuaskan. Dibutuhkan AI atau Artificial Intellegence yang ilmu saya sendiri belum mumpuni sapai kesitu.
NAmun setelah hunting ke beberapas situs lokal dan luar akhirnya saya menemukan source code untuk game catur tersebut menggunakan bahasa pemrograman java. Kurang lebih setelah di compile hasil screen shotnya seperti gambar berikut ini



Memang tidak mudah untuk membuat game ternyata, saya hampir give up karenanya. Supaya anda lebih paham bagaimana game ini diuat dan memainkannya, lebih baik anda mancobanya sendiri dengan mengkopi dan paste source code dibawah ini untuk kemudian di compile untuk melihat hasil outputnya. Karena sudah saya coba bisa jalan. Untuk souce code nya sendiri silakan juragan liat berikut :

import java.awt.BorderLayout;
import java.awt.Color;
import java.awt.ComponentOrientation;
import java.awt.Cursor;
import java.awt.GridLayout;
import java.awt.event.InputEvent;
import java.awt.image.BufferedImage;
import java.io.IOException;
import java.io.InputStream;
import java.util.Map;
import java.util.TreeMap;

import javax.imageio.ImageIO;
import javax.swing.ImageIcon;
import javax.swing.JButton;
import javax.swing.JFrame;
import javax.swing.JLabel;
import javax.swing.JOptionPane;
import javax.swing.JPanel;
import javax.swing.JToolBar;
import java.awt.Dimension;

public class ChessGame extends JFrame {
private static final long serialVersionUID = 1L;

private JPanel jContentPane = null;

private JPanel jPanel = null;

private JToolBar tlbMain = null;
private JLabel lblCells[] = new JLabel[64];

private String jPieces[][] = new String[8][8]; // @jve:decl-index=0:

private JButton btnNewGame = null;

private JLabel lblStatus = null;

private int heldX, heldY, heldI = -1;

// Map the full names of the pieces to their codenames (wRook, wQueen, etc.)
private Map pieceName = new TreeMap(); // @jve:decl-index=0:

private JLabel lblCurrPlayer = null;

// Stores the current player's move - we can easily match it against
// the first character of the pieces array
private char currPlayer = ' ';

private JButton btnUndo = null;

private int[][] moves = new int[10][6];
private String movedPieces[] = new String[10];

private int currMove = 0;

/**
* This is the default constructor
*/
public ChessGame() {
super();
initialize();
buildBoard();
}

/**
* This method initializes btnUndo
*
* @return javax.swing.JButton
*/
private JButton getBtnUndo() {
if (btnUndo == null) {
btnUndo = new JButton();
btnUndo.setText("Undo");
btnUndo.setEnabled(false);
btnUndo.addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseReleased(java.awt.event.MouseEvent e) {
undoMove();
}
});
}
return btnUndo;
}

public static void main( String args[] ) {
new ChessGame().setVisible(true);
}

/**
* This method initializes this
*
* @return void
*/
private void initialize() {
this.setSize(671, 555);
this.setContentPane(getJContentPane());
this.setTitle("Basic Chess");
this.setExtendedState(JFrame.MAXIMIZED_BOTH);
}

/**
* This method initializes jContentPane
*
* @return javax.swing.JPanel
*/
private JPanel getJContentPane() {
if (jContentPane == null) {
jContentPane = new JPanel();
jContentPane.setLayout(new BorderLayout());
jContentPane.add(getJPanel(), BorderLayout.CENTER);
jContentPane.add(getTlbMain(), BorderLayout.NORTH);
}
return jContentPane;
}

/**
* This method initializes jPanel
*
* @return javax.swing.JPanel
*/
private JPanel getJPanel() {
if (jPanel == null) {
GridLayout gridLayout = new GridLayout();
gridLayout.setRows(8);
gridLayout.setHgap(5);
gridLayout.setVgap(5);
gridLayout.setColumns(8);
jPanel = new JPanel();
jPanel.setLayout(gridLayout);
//buildBoard();
}
return jPanel;
}

private void newGame()
{
resetBoard();
resetPieces();
}

private void resetPieces()
{
jPieces = new String[8][8];
jPieces[0][0] = "bRook";
jPieces[0][1] = "bKnight";
jPieces[0][2] = "bBishop";
jPieces[0][3] = "bKing";
jPieces[0][4] = "bQueen";
jPieces[0][5] = "bBishop";
jPieces[0][6] = "bKnight";
jPieces[0][7] = "bRook";
jPieces[1][0] = "bPawn";
jPieces[1][1] = "bPawn";
jPieces[1][2] = "bPawn";
jPieces[1][3] = "bPawn";
jPieces[1][4] = "bPawn";
jPieces[1][5] = "bPawn";
jPieces[1][6] = "bPawn";
jPieces[1][7] = "bPawn";

jPieces[6][0] = "wPawn";
jPieces[6][1] = "wPawn";
jPieces[6][2] = "wPawn";
jPieces[6][3] = "wPawn";
jPieces[6][4] = "wPawn";
jPieces[6][5] = "wPawn";
jPieces[6][6] = "wPawn";
jPieces[6][7] = "wPawn";
jPieces[7][0] = "wRook";
jPieces[7][1] = "wKnight";
jPieces[7][2] = "wBishop";
jPieces[7][3] = "wKing";
jPieces[7][4] = "wQueen";
jPieces[7][5] = "wBishop";
jPieces[7][6] = "wKnight";
jPieces[7][7] = "wRook";
RepaintPieces();
}

private void PaintPiece(String pieceName, int i)
{
try
{
if(pieceName != null && pieceName != "")
{
InputStream inIcon = ClassLoader.getSystemResourceAsStream("pociu/games/chess/" + pieceName + ".png");
BufferedImage imgIcon = ImageIO.read(inIcon);
lblCells[i].setIcon(new ImageIcon(imgIcon));
//System.out.println("Painted " + pieceName + " at " + i);
}
else
{
lblCells[i].setIcon(null);
//System.out.println("Cleared cell at " + i);
}
}
catch(IOException e)
{
e.printStackTrace();
}. }

private void RepaintPieces()
{
int i = 0;
for(int x = 0; x < 8; x++)
{
for(int y = 0; y < 8; y++)
{
if(jPieces[x][y] != null && !jPieces[x][y].equals(""))
{
PaintPiece(jPieces[x][y], i);
}
else
{
PaintPiece("", i);
}
i++;
}
}
}

private void ClearHlight(int i, int rowNum)
{
if((i + rowNum) % 2 == 0)
{
lblCells[i].setBackground(Color.WHITE);
}
else
{
lblCells[i].setBackground(Color.GRAY);
}
}

private void undoMove()
{
if(btnUndo.isEnabled() && currMove > 0)
{
currMove--;
movePiece(moves[currMove][3], moves[currMove][4], moves[currMove][5], moves[currMove][0], moves[currMove][1], moves[currMove][2], true);
}
}

private void resetBoard()
{
currMove = 0;
pieceName.clear();
pieceName.put("bRook", "Black Rook");
pieceName.put("bQueen", "Black Queen");
pieceName.put("bPawn", "Black Pawn");
pieceName.put("bKnight", "Black Knight");
pieceName.put("bBishop", "Black Bishop");
pieceName.put("bKing", "Black King");
pieceName.put("wRook", "White Rook");
pieceName.put("wQueen", "White Queen");
pieceName.put("wPawn", "White Pawn");
pieceName.put("wKnight", "White Knight");
pieceName.put("wBishop", "White Bishop");
pieceName.put("wKing", "White King");
pieceName.put("wRook", "White Rook");

// If we're holding a piece, clear the hover of the cell
if(heldI >= 0 && heldX >= 0)
{
ClearHlight(heldI, heldX);
}

switchPlayer();

heldX = heldY = heldI = -1;
}

private void buildBoard()
{
// First reset the variables, maps, etc.
resetBoard();

int rowColor = 0;
int i = 0;
for(int x = 0; x <= 7; x++)
{
rowColor++;
for(int y = 0; y <= 7; y++)
{
lblCells[i] = new JLabel("", JLabel.CENTER);
lblCells[i].setOpaque(true);
if(rowColor % 2 == 0)
{
lblCells[i].setBackground(Color.GRAY);
}
else
{
lblCells[i].setBackground(Color.WHITE);
}

final int passX = x;
final int passY = y;
final int passI = i;

lblCells[i].addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseEntered(java.awt.event.MouseEvent e) {
// If we're holding a piece show that along with the cell we're hovering
if(heldI > 0)
{
lblStatus.setText("Picked up " + pieceName.get(jPieces[heldX][heldY]) + " at " + showBoardRelative(heldX, heldY) + " | Hovering: " + showBoardRelative(passX, passY));
}
else // Just show what we're hovering
{
lblStatus.setText("Hovering: " + showBoardRelative(passX, passY));
}
// Unless we hover the one we're holding...
if(passI != heldI)
{
lblCells[passI].setBackground(Color.DARK_GRAY);
}
}
});

lblCells[i].addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseExited(java.awt.event.MouseEvent e) {
lblStatus.setText("");
// Unless we hover the one we're holding...
if(passI != heldI)
{
// Clear the hover effect
ClearHlight(passI, passX);
}
}
});

lblCells[i].addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseReleased(java.awt.event.MouseEvent e) {
if(e.getModifiers() == InputEvent.BUTTON3_MASK)
{
showCellInfo(passX, passY, passI);
}
else if(e.getModifiers() == InputEvent.BUTTON1_MASK)
{
clickCell(e, passX, passY, passI);
}
}
});

jPanel.add(lblCells[i]);
rowColor++;
i++;
}
}
resetPieces();
}

// Translates grid relative coordinates to chess board relative
// For ex.: 0x0 to 8A
private String showBoardRelative(int x, int y)
{
String chessCoord = "";
chessCoord = (x - 8) * -1 + "" + (char)(y + 65);
return chessCoord;
}

private void showCellInfo(int x, int y, int i)
{
if(jPieces[x][y] != null && !jPieces[x][y].equals(""))
{
JOptionPane.showMessageDialog( null, pieceName.get(jPieces[x][y]) + " located at " + showBoardRelative(x, y), "Cell Information", JOptionPane.INFORMATION_MESSAGE );
}
else
{
JOptionPane.showMessageDialog( null, "No piece located at " + showBoardRelative(x, y), "Cell Information", JOptionPane.INFORMATION_MESSAGE );
}
}

private boolean isValidMove(int fromX, int fromY)
{
if(jPieces[fromX][fromY].length() > 0 && jPieces[fromX][fromY].charAt(0) == currPlayer)
{
return true;
}
else
{
return false;
}
}

private void movePiece(int fromX, int fromY, int fromI, int toX, int toY, int toI, boolean isUndo)
{
if(fromX == toX && fromY == toY)
{
ClearHlight(fromI, fromX);
lblStatus.setText("Move canceled.");
}
else if(isValidMove(fromX, fromY) || isUndo == true)
{
PaintPiece(jPieces[fromX][fromY], toI);
PaintPiece("", fromI);
ClearHlight(fromI, fromX);
lblStatus.setText("Moved " + pieceName.get(jPieces[fromX][fromY]) + " from " + showBoardRelative(fromX, fromY) + " to " + showBoardRelative(toX, toY));
jPieces[toX][toY] = jPieces[fromX][fromY];
jPieces[fromX][fromY] = "";
if(currMove > 9)
{
pushbackUndos();
}
moves[currMove] = new int[6];
moves[currMove][0] = fromX;
moves[currMove][1] = fromY;
moves[currMove][2] = fromI;
moves[currMove][3] = toX;
moves[currMove][4] = toY;
moves[currMove][5] = toI;
movedPieces[currMove] = jPieces[fromX][fromY];
btnUndo.setEnabled(true);
if(isUndo == false)
{
currMove++;
}
switchPlayer();
}
else
{
ClearHlight(fromI, fromX);
JOptionPane.showMessageDialog( null, "It's the " + lblCurrPlayer.getText(), "Illegal Move", JOptionPane.INFORMATION_MESSAGE );
}
}

private void pushbackUndos()
{
for(int i = 0; i < 9; i++)
{
moves[i] = moves[i + 1];
movedPieces[i] = movedPieces[i + 1];
}
currMove--;
}

private void switchPlayer()
{
//System.out.write(currPlayer);
if(currPlayer == 'w')
{
currPlayer = 'b';
lblCurrPlayer.setText("Black Player's Turn.");
lblCurrPlayer.setBackground(Color.BLACK);
lblCurrPlayer.setForeground(Color.WHITE);
}
else if(currPlayer == 'b' || currPlayer == ' ')
{
currPlayer = 'w';
lblCurrPlayer.setText("White Player's Turn.");
lblCurrPlayer.setBackground(Color.WHITE);
lblCurrPlayer.setForeground(Color.BLACK);
}
}

private void clickCell(java.awt.event.MouseEvent e, int x, int y, int i)
{
JLabel lblClicked = (JLabel)e.getSource();
if(heldI != -1) // We're dropping a piece
{
jContentPane.setCursor(Cursor.getPredefinedCursor(Cursor.DEFAULT_CURSOR));
movePiece(heldX, heldY, heldI, x, y, i, false);
heldX = heldY = heldI = -1;
}
else // We're picking up a piece
{
if(jPieces[x][y] == null || jPieces[x][y].equals(""))
{
lblStatus.setText("No piece to pick up.");
}
else
{
jContentPane.setCursor(Cursor.getPredefinedCursor(Cursor.HAND_CURSOR));
lblClicked.setBackground(new Color(255, 176, 70));
lblStatus.setText("Picked up " + pieceName.get(jPieces[x][y]) + " from " + showBoardRelative(x, y));
heldX = x;
heldY = y;
heldI = i;
}
}
}

/**
* This method initializes tlbMain
*
* @return javax.swing.JToolBar
*/
private JToolBar getTlbMain() {
if (tlbMain == null) {
lblCurrPlayer = new JLabel();
lblCurrPlayer.setText("");
lblCurrPlayer.setOpaque(true);
lblStatus = new JLabel();
lblStatus.setText("");
lblStatus.setPreferredSize(new Dimension(200, 16));
lblStatus.setSize(new Dimension(200, 16));
tlbMain = new JToolBar();
tlbMain.setOrientation(JToolBar.HORIZONTAL);
tlbMain.setComponentOrientation(ComponentOrientation.LEFT_TO_RIGHT);
tlbMain.setFloatable(false);
tlbMain.add(getBtnNewGame());
tlbMain.add(new JToolBar.Separator());
tlbMain.add(getBtnUndo());
tlbMain.add(new JToolBar.Separator());
tlbMain.add(lblCurrPlayer);
tlbMain.add(new JToolBar.Separator());
tlbMain.add(lblStatus);
}
return tlbMain;
}

/**
* This method initializes btnNewGame
*
* @return javax.swing.JButton
*/
private JButton getBtnNewGame() {
if (btnNewGame == null) {
btnNewGame = new JButton();
btnNewGame.setText("New Game");
btnNewGame.addMouseListener(new java.awt.event.MouseAdapter() {
public void mouseReleased(java.awt.event.MouseEvent e) {
if(JOptionPane.YES_OPTION == JOptionPane.showConfirmDialog(null, "Are you sure you wish to end this game?"))
{
newGame();
}
}
});
}
return btnNewGame;
}

} // @jve:decl-index=0:visual-constraint="10,10"


Selamat Mencoba....

Kamis, 03 Juni 2010

MACAM-MACAM PENYAKIT SOSIAL

Penyakit sosial merupakan bentuk kebiasaan masyarakat yang berperilaku tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial, sehingga menghasilkan perilaku menyimpang. Beberapa kebiasaan warga masyarakat yang dapat dikategorikan sebagai bentuk penyakit sosial antara lain kebiasaan minum-minuman keras, berjudi, menyalahgunakan narkoba, penyakit HIV/AIDS, penjaja sex komersial (PSK), dan sebagainya.

1. Minum-Minuman Keras

Minuman keras atau sering disingkat miras adalah minuman yang mengandung alkohol. Minuman beralkohol dikategorikan menjadi tiga golongan berdasarkan kadar alkohol yang terkadung di dalamnya, yaitu:

a. Minuman beralkohol golongan A, mempunyai kandungan alkohol sebanyak 1 % sampai 5 %.

b. Minuman beralkohol golongan B, mempunyai kadar alkohol lebih dari 5 % sampai 20 %.

c. Minuman beralkohol golongan C, mempunyai kadar alkohol lebih dari 20 % sampai 55 %.

Alkohol termasuk zat adiktif, yakni zat yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan. Di samping itu, alkohol juga termasuk golongan depresan yang dapat memperlambat aktivitas otak dan sistem saraf. Sifat alkohol yang antiseptik sebagai larutan pelawan kuman sering dipergunakan oleh tenaga medis (dokter, perawat, bidan) untuk membersihkan peralatan yang akan dipergunakan untuk kegiatan pengobatan, misalnya alat suntik, mencuci peralatan operasi bedah, mensterilkan ruangan, dan sebagainya.

Masyarakat Eropa adalah kelompok masyarakat yang terbiasa meminum minuman beralkohol untuk menghangatkan tubuh guna melawan dinginnya lingkungan. Akan tetapi, mereka meminum alkohol tidak lebih dari satu gelas kecil (sloki) berukuran 10 ml dan hanya beberapa teguk saja, itu pun dilakukan tidak setiap saat.

Minum minuman beralkohol dalam jumlah banyak dapat menimbulkan mabuk bahkan tak sadarkan diri, karena alkohol berpengaruh terhadap kerja dan fungsi susunan saraf. Pemakaian alkohol dalam jangka waktu lama akan menimbulkan kerusakan pada organ hati dan otak serta menimbulkan efek ketergantungan.

Orang yang kecanduan alkohol akan menunjukkan gejala-gejala seperti mual, gelisah, gemetar, sukar tidur. Pengaruh alkohol mengakibatkan perilaku emosional, tak terkendali, dan agresif. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa banyak pelaku tindak kriminal selalu diawali dengan meminum minuman keras, sehingga tindakannya bisa di luar batas perikemanusiaan.

2. Judi

Judi merupakan kegiatan permainan yang bertujuan memperoleh uang tanpa bekerja dan hanya mengandalkan faktor spekulasi.

Permainan judi selalu dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi yang bertujuan memperoleh uang secara cepat tanpa bekerja melalui suatu permainan. Kebiasaan berjudi membuat orang menjadi malas dan tidak mau bekerja, tetapi mempunyai ambisi besar untuk mendapatkan uang dalam jangka waktu singkat.Seperti halnya miras, berjudi dapat membuat orang ketergantungan, sehingga ia rela menghabiskan waktu dan pikirannya hanya untuk berjudi.

Kebiasaan berjudi akan membentuk seseorang tumbuh menjadi pribadi yang cenderung emosional, tidak sabaran, tidak mampu berfikir logis, dan pemalas.

3. Narkoba

Istilah narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, narkotika diartikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Menurut Dr D.J. Siregar, istilah narkotika berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “narkotikos”, yang berarti keadaan seseorang yang kaku seperti patung atau tidur.

Dalam dunia kedokteran narkoba sangat diperlukan sebagai sarana pengobatan. Misalnya sebagai obat penenang atau obat bius dan penghilang rasa sakit pada pasien.

Orang yang menyalahgunakan pemakaian narkoba merupakan bentuk penyalahgunaan yang bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga mengganggu lingkungan sosial akibat sikap yang ditimbulkan dari ketergantungan terhadap narkoba. Orang yang mengalami ketergantungan pada narkoba biasanya akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan narkoba, seperti mencuri, merampok, dan merampas. Penyalahgunaan narkoba seringkali menyebabkan masalah kejiwaan dan kesehatan yang serius bagi penggunanya. Kehidupan sosial pemakai narkoba menjadi terganggu, sukar bergaul dan cenderung mudah terpengaruh tindak kejahatan.

Pengaruh narkoba terhadap tubuh yang sehat akan mengakibatkan gangguan mental dalam bentuk emosional, perilaku tidak terkendali, penurunan daya ingat yang sangat drastis, kerusakan sistem saraf otak. Adapun secara umum, ciri-ciri pemakai narkoba antara lain:

a. daya konsentrasi menurun,

b. malas, gairah untuk hidup hilang,

c. tidak peduli terhadap keadaan dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya,

d. tidak mampu menggunakan akal pikirannya secara sehat,

e. sangat sensitif, emosional, dan agresif,

f. ketergantungan terhadap narkoba akan menimbulkan rasa sakit pada sekujur tubuh.

4. Penyakit HIV/AIDS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh akibat infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Tubuh yang terserang AIDS akan rentan terhadap infeksi penyakit, sehingga mengakibatkan kematian. Saat ini, AIDS telah tersebar luas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Virus HIV tersebar melalui pertukaran cairan tubuh, seperti darah, sekreta dari alat kelamin (cairan semen dan cairan vagina),

dan air susu. Oleh sebab itu, HIV menular lewat hubungan seksual dengan penderita HIV (baik melalui anus atau vagina), kontak melalui darah dan produk-produk darah (misalnya serum), serta kegiatan menyusui dari ibu penderita HIV kepada anak yang disusuinya.

Meskipun HIV juga terdapat dalam air ludah dan urin, namun virus ini tidak cukup kuat untuk menyebabkan infeksi. Kontak biasa dengan orang yang terinfeksi HIV, seperti mengobrol, bersalaman, makan bersama, dan berenang, tidak akan menularkan HIV.

Selain menimbulkan gejala influenza, seperti demam, pusing, dan hidung tersumbat, seseorang yang terinfeksi HIV juga mengalami beberapa gejala, seperti batuk, penurunan berat badan, pembesaran kelenjar getah bening, gangguan penglihatan, serta gangguan saraf dan otak. Para pecandu narkoba yang terinfeksi HIV sering mengalami gejala tambahan, seperti penyakit kuning, sesak napas, dan jantung berdebar-debar. Apabila jumlah sel turun sampai di bawah 200 sel per mikroliter darah, orang yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala-gejala infeksi oporturiistik dan kanker, seperti pneumonia pneumosistis (infeksi paru-paru), sitomegalovirus, herpes, serta kanker sarkoma kaposi (kanker pembuluh darah) dan kanker leher rahim.

5. PSK

Pekerja sex komersial (PSK) merupakan salah satu bentuk penyakit sosial yang tertua di dunia. Kegiatan PSK yang disebut sebagai prostitusi telah dikenal sejak zaman Romawi Kuno.

Meskipun upaya pemberantasan terus-menerus dilakukan, tetapi praktik prostitusi tetap saja marak di masyarakat, baik yang berlangsung secara terang-terangan maupun secara terselubung dengan berkedok dan membaur dalam kegiatan sosial lainnya.

Pada umumnya kegiatan prostitusi berlatar belakang pada faktor kesulitan ekonomi. Namun secara psikologis, prostitusi merupakan bentuk kelainan mental yang hanya dapat berhenti atas kesadaran pelaku semata. Oleh karena itu, meskipun pelaku prostitusi dijaring, dibina, dan diberi aneka keterampilan agar bekerja secara sewajarnya, namun tetap saja ia akan kembali menekuni prostitusi sebagai pilihan hidupnya apa pun risikonya.

Melalui prostitusi inilah akan berkembang subur penyakitpenyakit sosial lainnya, sehingga terciptalah mata rantai yang tidak terputus, bahkan saling terkait misalnya antara prostitusi dengan miras, penyalahgunaan narkoba, perjudian, dan proses penularan penyakit HIV/AIDS.

6. Kenakalan Remaja

Usia remaja erat kaitannya dengan perubahan sikap dan pola perilaku pada diri seseorang. Suatu hal yang alamiah bahwa dunia remaja selalu diwarnai dengan perilaku-perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma yang telah diserapnya, karena keinginannya untuk menemukan jati diri dan adanya dorongan untuk tidak mau dikendalikan oleh orang lain. Dalam kondisi alamiah inilah peran orang tua sebagai penanggung jawab mengenai perilaku anak-anak sangat diharapkan. Kecenderungan remaja terikat dengan lingkungan sosial sebayanya memudahkan remaja terbawa arus lingkungannya. Oleh karena itu, orang tua wajib mengenali secara benar siapa saja teman sebaya anaknya yang sedang memasuki masa remaja.

Kenakalan remaja merupakan bentuk aktivitas sekelompok remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Sesuai dengan sifat remaja yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan emosi, perilaku mereka mencerminkan gejolak emosi tanpa mempedulikan lingkungannya. Misalnya kebut-kebutan, membikin keonaran/keributan, dan selalu melakukan aktivitas-aktivitas untuk memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Mudahnya remaja terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, miras, merokok bahkan tindak kejahatan merupakan bentuk perilaku menyimpang yang selalu berawal dari iseng atau coba-coba yang membuatnya mudah terjerumus ke perilaku menyimpang.

Seiring dengan proses pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang selalu berganti generasi, maka gejala kenakalan remaja pun selalu ada dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai bentuk sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Apa itu kebudayaan???

Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:

1. Edward B. Taylor

Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.

2. M. Jacobs dan B.J. Stern

Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial.

3. Koentjaraningrat

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.

4. Dr. K. Kupper

Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.

5. William H. Haviland

Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.

6. Ki Hajar Dewantara

Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

7. Francis Merill

* Pola-pola perilaku yang dihasilkan oleh interaksi sosial
* Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang ditemukan melalui interaksi simbolis.

8. Bounded et.al

Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya diantara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.

9. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)

Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan secara genetikal.

10. Robert H Lowie

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.

11. Arkeolog R. Seokmono

Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.

Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat........

Manusia dan Lingkungan

PENGERTIAN LINGKUNGAN

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.

Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.



LINGKUNGAN HIDUP

Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.

Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Unsur Hayati (Biotik)

Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.

2. Unsur Sosial Budaya

Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

3. Unsur Fisik (Abiotik)

Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.



KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam

Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.

Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.

Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara

lain berupa:

1) Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.

2) Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui.

3) Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.

4) Gas yang mengandung racun.

5) Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.

b. Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa.

Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya:

1) Berbagai bangunan roboh.

2) Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.

3) Tanah longsor akibat guncangan.

4) Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.

5) Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).

c. Angin topan

Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah.

Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Korea dan Taiwan, bahaya angin topan merupakan bencana musiman. Tetapi bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di Indonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan global.

Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk:

1) Merobohkan bangunan.

2) Rusaknya areal pertanian dan perkebunan.

3) Membahayakan penerbangan.

4) Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.

2. Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:

a. Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.

b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.

c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).

b. Perburuan liar.

c. Merusak hutan bakau.

d. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.

e. Pembuangan sampah di sembarang tempat.

f. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).

g. Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.



UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Di dalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu:

a. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup.

b. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut:

a. Menjamin pemerataan dan keadilan.

b. Menghargai keanekaragaman hayati.

c. Menggunakan pendekatan integratif.

d. Menggunakan pandangan jangka panjang.

Pada masa reformasi sekarang ini, pembangunan nasional dilaksanakan tidak lagi berdasarkan GBHN dan Propenas, tetapi berdasarkan UU No. 25 Tahun 2000, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN).

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya:

a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.

1. Upaya yang Dilakukan Pemerintah

Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:

a. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah.

b. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.

c. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).

d. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya:

1) Menanggulangi kasus pencemaran.

2) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).

3) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

e. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.

2. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:

a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)

Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

b. Pelestarian udara

Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen.

Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:

1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita

Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.

3) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.

c. Pelestarian hutan

Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:

1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.

3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

4) Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.

5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

d. Pelestarian laut dan pantai

Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak.

Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:

1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.

2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.

3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.

4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e. Pelestarian flora dan fauna

Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:

1) Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.

2) Melarang kegiatan perburuan liar.

3) Menggalakkan kegiatan penghijauan.